Kembali Untuk Membangun

Salah satu pepatah jepang menyatakan i no naka no kawazu taikai wo shirazu yang berarti Bagaikan katak di dalam tempurung tidak tahu seberapa luas lautan. Seperti itulah anggapan kenyataan dunia pendidikan di Indonesia menurut Dr. Khoirul Anwar. “Banyak saya dapat proposal-proposal dari guru dan dosen di Indonesia memiliki kualitas yang jauh bila dibandingkan proposal dari guru atau dosen dari luar negeri” tuturnya.

Khoirul Anwar sendiri adalah anak bangsa yang cemerlang. Sebagai salah satu penemu teknologi koneksi 4G yang banyak kita pakai sekarang, membuat nama Indonesia harum di kancah international. Tepatnya di Jepang, pria yang lahir 22 Agustus 1978 di Kediri ini menemukan teknologi ini. “Saat menemukann teknologi ini saya begitu di benci dan kucilkan” ceritanya di sela-sela wawancara bersama YDSF. Jepang dan Australia yang menjadi penentang teknologi baru ini saat itu “tetapi saya tidak menyerah” tutur ayah dari 3 anak ini.

“Kita sebagai muslim sering diremehkan oleh negara yang memiliki kemakmuran yang tinggi” yang akhirnya menjadi dasar kenapa penerima beasiswa S2 dari Panasonic ini untuk berjuang menancapkan paten dari teknologi 4G ini. Keinginan besar dari Khoirul Anwar untuk mengharumkan nama Indonesia dan menegakkan agama Allah sangat besar dan menjadi pendorong yang signifikan bagi dia. “Sebegai ajang dakwah meskipun sangat berat kerena mengingat sudah majunya Jepang dalam segala hal.” pungkasnya.

Majunya Jepang dalam segala aspek, terutama pendidikan membuat khoirul Anwar berpikir betapa jauh kualitas pendidikannya dibandingkan Indonesia. Secara mengejutkan sebuah penelitian menunjukan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih di bawah Filipina dan Etheopia. Penelitian dari The Right to Education Index (RTEI) menunjukan kualitas pendidikan Indonesia berdasarkan Kementrian pendidikan, ketersediaan, aksesibilitas, penerimaan dan adaptasi, Indonesia berada di skor 77%. Skor yang sama di catatkan oleh negara Honduras dan Nigeria tetapi berada di bawah Filipina (81%) dan Etheopia (79%). Penelitian ini yang menjadi dasar awal lulusan Teknik Elektro ITB ini untuk kembali ke Indonesia.

“Masyarakat Indonesia bisa ‘Go-International’” tegas Khoirul Anwar, semangat besar untuk membangun pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Dosen dari Universitas Telkom Bandung ini menuturkan bahwa masih jauhnya kualitas pendidikan Indonesia ketimbang negara-negara lain di luar “sering kita merasa pendidikan kita di Indonesia sudah bagus, tetapi kenyataannya ‘laut’ lebih luas dari yang kita perkirakan” tuturnya.

Selama 14 tahun lebih berada di Jepang, tentu pemegang gelar S2 dan S3 dari Nara Institute of Science ini tahu bagaimana kualitas pendidikan yang baik. Sebagai Reviewer jurnal-jurnal yang bertaraf international, Khoirul Anwar bisa menakar sejauh mana kualitas tenaga pengajar di Indonesia. “terkadang membuat saya bimbang, tenaga pengajar di Indonesia sangat butuh ditingkatkan agar bersaing dengan guru atau dosen dari luar negeri.” tegasnya.

Perbedaan pendapatan yang sangat jauh dibandingkan saat di Jepang tidak menyurutkan niat Khoirul Anwar untuk memajukan Indonesia. “Pendapatan bukan menjadi soal, yang menjaid soal bagaimana pendidikan di Indonesia bisa lebih baik lagi” yang membuat Khoirul anwar berpikir untuk mencetuskan suatu ide bagaimana membuat Indonesia terkenal di dunia melalui dunia pendidikan.

Teknologi Broadband (jaringan atau servis internet) 5G akan segera di luncurkan oleh Khoirul anwar. Sejauh ini kita mengetahui bahwa teknologi 4G sebagai teknologi broadband terbaik, maka akan segera kalah dengan teknologi terbaru ini. “Dengan berbagai fitur seperti gambar hologram (gambar timbul digital) dan teknologi VR (Virtual Reality) ditambah di luncurkan di Indonesia, akan membuat negara ini semakin dikenal dalam dunia pendidikan dan teknologi” sambungnya.

Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

Ayat di atas menjadi pondasi utama Khoirul anwar dalam berkerja dan menjadikan pekerjaan ini ajang dia untuk berdakwah. “Bekerja itu harus ikhlas, hanya karena Allah. Dengan begitu tidak ada yang kita kejar selain ridho-Nya” besarnya tekanan pekerjaan di Jepang saat dia awal bekerja membuat Khorul anwar sangat berpegang teguh akan agamanya “bila tidak seperti itu, sudah dari dulu menyerah” sambungnya.

Menjadikan pekerjaan sebagai ladang dakwah yang luas di negeri minoritas menjadi tantangan tersendiri bagi Khorul anwar, “bila kita menegakkan agama Allah, saya yakin Allah akan memberikan pertolongan-Nya.” tegasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s